Oleh: Ustadz Zul Fahmi, S.Pd.I. (Ketua I DPP FKAM)
Macam-macam Dosa
Manusia hidup di dunia ini, selalu melakukan dosa yang bisa digolongkan menjadi tiga macam: Pertama adalah dosa Rububiyah. Dosa Rububiyah adalah dosa yang disebabkan seseorang punya anggapan bahwa dirinya besar, punya keagungan, kelebihan dan kehebatan yang sebenarnya tidak berhak dimiliki selain Allah. Bisa pula diartikan, dosa Rububiyah adalah dosa yang dilakukan oleh manusia karena telah merampas dan menyandang sifat-sifat yang sebenarnya hanya khusus dimiliki oleh Allah saja. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
“Keagungan adalah pakaian-Ku, kesombongan adalah jubah-Ku, barangsiapa menarik keduanya dari-Ku, niscaya Aku lemparkan ia ke Neraka.” (HR. Muslim).
Termasuk dosa dalam jenis ini adalah sombong (takabur), membanggakan diri, pamer riya’, sum’ah, ujub, dan lain sebagainya. Seluruh dosa yang berkaitan dengan kekufuran, kedengkian, dendam, ambisi, dan lain sebagainya, maka termasuk dosa dalam jenis ini.
Kemudian yang Kedua adalah dosa Jasadiyah. Dosa Jasadiyah adalah dosa yang dilakukan oleh manusia sebab hawa nafsu dan sifat kebinatangan yang dimilikinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidak ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk dari perutnya.” (Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya).
Al-Ghozali mengatakan bahwa berlebihan dalam makan mengakibatkan banyak keburukan. Ia akan memacu anggota badan untuk melakukan kemaksiatan dan menjadikannya berat melakukan ketaatan. Ibrahim bin Adam berkata, “Barangsiapa menjaga perutnya, maka akan terjaga diennya. Barangsiapa mampu menguasai rasa laparnya, maka akan memiliki akhlaq yang baik. Sesungguhnya kemaksiatan itu jauh dari orang yang lapar dan dekat dengan orang yang kenyang.”
Dosa yang disebabkan karena orientasi hidup seseorang hanya tertuju pada makanan inilah yang dimaksud dengan dosa Jasadiyah. Termasuk dosa jenis ini adalah berzina, minum khamr, mencuri, makan harta haram, riba, berjudi, liwath, dan lain sebagainya. Kalau jenis dosa yang pertama sumbernya adalah sifat buruk manusia yang bersemayam dalam hatinya, seperti sombong, iri, dengki, ujub, dan lain sebagainya, sementara dosa yang kedua ini sumbernya adalah nafsu manusia yang bergejolak untuk mengejar kenikmatan-kenikmatan jasadnya, yaitu kenikmatan makan, seksual, dan kekuasaan. Kedua jenis dosa ini termasuk dosa yang dikategorikan kabair (dosa-dosa besar), yaitu dosa sebagaimana yang telah didefinisikan oleh Imam Adz-Dzahabi, yakni semua larangan Allah dan Rasul-Nya, yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunah, juga atsar para shahabat dan ulama salaf.
Sedangkan dosa yang Ketiga adalah dosa-dosa selain dari Rububiyah dan dosa Jasadiyah, yaitu dosa yang tergolong dosa kecil. Jenis dosa ini adalah dosa yang manusia sulit menghindarinya, melakukannya tanpa sengaja, atau karena ketidakhati-hatian dan kelalaiannya. Biasanya dosa ini tidak ada kaitanya dengan perampasan hak-hak adami (manusia), dan tidak ada kaitannya dengan penentangan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi lebih kepada kedzaliman yang akan merugikan diri sendiri dan dilakukan atas dasar kelemahannya bukan kekufurannya. Namun, dosa-dosa kecil ini akan menjadi besar apabila terus menerus dilakukan.
Dari semua dosa yang disebutkan di atas, maka dosa yang paling besar adalah syirik, yaitu dosa yang Allah tidak akan mengampuninya kecuali manusia bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum kematiannya.
Macam-macam Penghapusan Dosa
Semua jenis dosa di atas, ada yang diampuni dan dihapus oleh Allah di dunia, dan ada yang dihapus di akhirat (Neraka). Penghapusan ini ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an:
“Agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Az-Zumar: 35).
Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziah Rahimahullah berkata bahwa orang yang berdosa mempunyai tiga sungai besar untuk membersihkan dosa-dosanya di dunia. Jika belum bersih, maka ia akan dibersihkan pada hari Kiamat di sungai Neraka. Tiga sungai itu adalah pertama sungai taubatan nashuha, kedua sungai kebaikan yang melimpah ruah yang akan menghanyutkan dosa-dosanya, dan yang ketiga adalah sungai musibah dan cobaan yang tengah menimpanya.
Beliau juga mengatakan, “Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada diri hamba-Nya, maka Ia akan memasukkannya ke dalam sungai-sungai tersebut, sehingga ia datang pada hari Kiamat dalam keadaan bersih dan tak perlu lagi dibersihkan di Neraka.” Perkataan Ibnul Qoyyim ini didasarkan pada dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun Hadits Nabi yang sudah sangat masyhur sekali.
Termasuk sungai yang akan menghanyutkan dosa adalah zakat dan sedekah (tathowu’). Hal ini dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari shahabat Mu’ad bin Jabal Radhiayallahu ‘anhu dan ia menshahihkanya. Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan?” Aku (Mu’adz) berkata, “Baik ya Rasulullah!” Rasul bersabda, “Puasa adalah benteng, dan sedekah akan menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api.”
Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh Ibnu Hiban dalam Shahihnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Puasa adalah benteng dari Neraka, dan sedekah akan menghilangkan kesalahan sebagaimana mencairnya es di atas batu.”
Hikmah Puasa
Bulan Ramadhan adalah bulan yang disediakan Allah sebagai anugerah bagi manusia, agar ia berlatih melaksanakan amal-amal penghapus dosa tersebut. Ibadah puasa disyariatkan, agar manusia terlatih untuk menghadapi berbagai kesulitan, musibah, serta cobaan dengan sabar dan hati yang lapang. Puasa juga akan menyadarkan manusia bahwa kemuliaan dan kebahagiaan, haruslah diraih dengan perjuangan, pengorbanan, dan kesabaran. Manusia juga harus tabah terhadap segala musibah, karena musibah akan merontokkan sebagian dosa-dosanya. Musibah akan bisa menghancurkan batu karang keangkuhan dan ketakaburannya, dan memaksa manusia memahami kelemahan dan ketidakberdayaannya.
Takabur harus dihilangkan dari hati manusia, karena takabur adalah sumber dari segala keburukan manusia. Ia adalah moyangnya dosa, dan merupakan keburukan yang dilakukan makhluq untuk yang pertama. Iblis yang menurut para mufassir mulanya adalah makhluq Allah yang terpandai dan paling taat kepada Allah, menjadi celaka dan terlaknat karena ketakaburannya.
Imam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Takabur lebih jahat daripada syirik. Sebab orang yang takabur merasa hebat (menolak) untuk beribadah kepada Allah, sedangkan orang musyrik masih mau beribadah kepada Allah walaupun juga beribadah kepada selain-Nya.”
Dalam bulan Ramadhan manusia juga diperintahkan agar banyak mengerjakan shalat malam, membaca Al-Qur’an, i’tikaf, berdzikir dan lain sebagainya, agar dirinya terlatih dan terbiasa melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala. Manusia juga agar memahami dan merasakan bahwa ibadah adalah tujuan diciptakannya, kebutuhan hidupnya, dan hanya dengan ibadah ia akan menemukan ketenangan dan kebahagiaannya.
Ketika ibadah sudah dianggap sebagai kebutuhan hidup oleh manusia, maka ia akan mengutamakannya, menjaganya, dan tidak akan melepaskannya, karena melepaskannya berarti adalah kesempitan hidup baginya. Barangsiapa yang selalu istiqomah dalam ibadah dan senantiasa bertaubat, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya, dan menghapus kesalahan-kesalahannya. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim: 8).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda, “Shalat lima waktu, Jumat satu hingga Jumat berikutnya, Ramadhan satu hingga Ramadhan berikutnya, menghapuskan dosa di antara keduanya, selama tidak melakukan dosa-dosa besar.” (HR. Muslim).
Pada bulan Ramadhan, Allah juga memerintahkan manusia untuk banyak bersedekah, dan menutup puasanya dengan zakat fitrah, agar manusia memahami bahwa pengabdian kepada Allah harus disempurnakan dengan membina kasih sayang sesama manusia, membantu fakir miskin, anak yatim, dan siapa saja yang membutuhkannya. Ini akan menghapus sebagian dosa-dosanya, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah kepadanya, serta pembuka pintu amal-amalnya.
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ’anha bahwa orang-orang menyembelih seekor domba. Lalu Nabi bertanya, “Apa yang masih menyisa dari domba itu?” Aisyah menjawab, “Tidak ada yang menyisa kecuali tulang bahunya.” Beliau bersabda, “Semuanya masih menyisa kecuali tulang bahunya.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia menshahihkanya).
Hadits Aisyah ini menjelaskan, bahwa rezeki yang hakiki bagi manusia adalah rezeki yang telah disedekahkannya. Sedangkan rezeki yang disimpan dan dinikmatinya bukanlah rezeki yang hakiki baginya. Rezeki yang disedekahkan akan dibalas dan dilipatgandakan oleh Allah sebagai balasan di akhirat. Sementara rezeki yang dimakan, maka akan menjadi darah yang mengalirkan hawa nafsunya, yang jika ia tidak mampu menahannya akan menjadi perbuatan dosa. Itulah bulan Ramadhan, ia adalah bulan penggemblengan bagi manusia agar menjadi seorang hamba yang bertaqwa dan kelak ia akan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Kiamat dengan keadaan suci dari segala dosa. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqaroh: 183).
Imam Ibnu Katsir berkata berkaitan dengan ayat ini, “Sesungguhnya di dalam puasa itu ada pensucian bagi badan (jiwa), dan penyempitan bagi langkah-langkah Syetan (dalam menjerumuskan manusia).”
Hari Raya
Orang yang berhari raya adalah orang yang mau memahami makna bulan puasa dan makna hari raya, mengamalkannya, dan memperlakukannya sesuai dengan tujuan disyariatkannya. Dengan begitu bulan puasa tersebut bisa mengantarkannya ke derajat taqwa. Mereka itulah yang sebenarnya berhari raya.
Sementara orang yang tidak mau memahami makna dan hakekat bulan puasa dan hari raya, kemudian menyambutnya denga hura-hura, bahkan dengan cara-cara yang mengandung kemaksiatan dan kebid’ahan seperti apa yang telah dipertontonkan sebagian besar umat Islam hari ini, jelas mereka tidaklah berhari raya yang sebenarnya. Walaupun mereka berpakaian baru, naik kendaraan baru, dan rumah berpenampilan baru, namun tidak memiliki jiwa yang baru dan amal baru. Bahkan mungkin jiwa dan amalnya lebih buruk keadaannya dari sebelumnya.
Syetan telah memperdayai mereka, membelokkan pemahaman dan amal mereka, serta menghilangkan nikmat yang paling berharga bagi mereka. Mereka bergembira dan berpesta pora di bawah bayang-bayang kerugian mereka. Dan merekalah orang yang sebenarnya lebih pantas menangis daripada tertawa.
Hari kemenangan adalah hari dimana manusia bisa melepaskan dirinya dari belenggu Syetan dan untuk selanjutnya tetap bisa istiqomah dalam amal kebaikan. Hari kemenangan dalam konteks puasa dan lebaran hari raya adalah hari dimana manusia saat lebaran tersebut bisa membuka lembaran baru dalam hidupnya, untuk selalu mengarah kepada keridhaan Allah Ta’ala dengan ilmu, taqwa dan cinta kepada-Nya.
Bahan bacaan:
- Madarijus Salikin, Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziah.
- Syarful Ummatil Muhammadiyah, Dr. Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani.
- Mukhtashor Minhajul Qosidin, Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy.